Sabtu, 25 April 2015

Prinsip Jual Beli dalam Islam

Berikut ini adalah kajian yang disampaikan oleh Ustad Arifin Badri tentang prinsip prinsip jual beli dalam Islam. Berikut ini ringkasannya

Allah Ta’ala berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah: 275]


Juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [An-Nisaa': 29)]


Hukum asal SEMUA jenis perdagangan adalah halal sampai ada dalil yang mengaramkannya.

Hal hal yang diharamkan dalam dagang terbagi menjadi 4 yaitu
  1. haram karena barang yang diperjualbelikan, misalkan menjual babi, bangkai atau berjual beli barang curian. Catatan penting :Segala barang yang haram dimakan atau dipakai berarti HARAM pula untuk diperjual belikan
  2. Segala unsur transaksi yang mengandung Riba adalah haram, faktor lain yang menyebabkan haramnya transaksi adalah adanya unsur Gharar (ketidakjelasan). sebagai contoh orang menjual ikan di kolam (saya jual seluruh ikan di kolam ini dengan harga sekian). Contoh jual beli haram yang lain adalah jual beli sistem ijon. Sebagai contoh "Seorang pedagang padi bilang ke petani, Saya beli hasil panen sawah ini dengan harga sekian , padahal tanaman padi masih hijau dan belum siap panen". 
  3. Hal lain yang menyebabkan haramnya jual beli adalah adanya pintu pembuka Riba. Misalkan saya jual rumah ini dengan harga 1Milyar dan bisa dicicil selama 1 tahun. Namun jika satu tahun belum lunas, maka kamu harus membayar denda sekian juta.
  4. Haram menjual barang yang belum mejadi milik kita 100%. Misalkan sistem jual beli doorship ataupun sistem jual beli rumah dengan akad sebagai berikut:  "Si A menjual rumah ke Si B dengan harga 1 Milyar. Si B memberi uang muka 100 jt pada si A. Lalu si B menjual rumah yang belum lunas tadi ke si C dengna harga 1.2 Milyar.
Selain faktor diatas, ada faktor luar yang menyebabkan haramnya jual beli diantaranya
  1. jual beli saat sudah adzan sholat jumat sampai selesai sholat jumat 
  2. Adanya faktor penipuan, misalkan menjual barang yang tidak sesuai spesifikasi. 
  3. Menjual barang yang merugikan oran lain, di contohkan adalah monopoli dan menimbun barang. 
Selain itu, dijelaskan pula bahwa transaksi dalam Islam dilihat dari tujuannya ada 3 yaitu

1. Transaksi yang mencari keuntungan misalkan Jual beli dan sewa menyewa. 

 2. Transaksi yang sifatnya menolong dalam hal ini TIDAK boleh mengambil keuntungan. Misalkan sadaqah atau hutang piuang.  Hutang yang disertai keuntungan adalah RIBA apapun bentuknya. Sebagian sudah paham dengan rentenir atau bank. Namun banyak yang belum paham bahwa hutang pituang seperti seperti contoh dibawah ini juga HARAM .

 Seorang pengusaha A memberikan hutang ke pengusaha lain B untuk berdagang. Si pengusaha ini memberi hutang 10jt. Si A memberi syarat tambahan bahwa karena si B hutang untuk berdagang, si A minta agar saat dikembalikan ada tambahan 1juta. Si A sama saja mengambil riba karena mengambil untung dari hutang piutang. Solusi untuk masalah ini, seharusnya si A berinvestasi ke Si B. Jika untung maka dibagi dua dengan si B, jika rugi maka kerugian juga dibagi dua. 

3. Transaksi yang menggunakan barang jaminan, contohnya pegadaian. Dalam pegadaian tidak diperkenankan mengambil keuntungan. Pada prinsipnya gadai adalah hutang piutang dengan jaminan.

Untuk lebih jelas dan lebih rinci,silahkan download atau dengarkan kajiannya dibawah ini
 


Sabtu, 18 April 2015

Wajibnya Menjaga Lisan dalam Islam




Mari kita perhatikan Dalil dari Alquran dan Hadist berikut :

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (al-Humazah: 1)

Allah melaknat orang orang yang suka mencela dan mengumpat serta merendahkan muslim yang lain dalam surat Al humazah. Sudah barang tentu mulut yang suka mengumpat dan menjela di benci oleh Allah.

“Sungguh seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah dalam keadaan dia tidak peduli dengan ucapan tersebut sehingga menyebabkan dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari)


Perhatikan hadist diatas, hadist tersebut memberi peringatan keras bagi kita untuk menjaga lisan, karena kadang kita menganggap perkataan kita sepele namun ternyata berdosa besar disisi Allah yang menyebabkan orang masuk neraka. 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Seorang muslim yang baik juga hendaknya hanya berkata kata yang baik. Lalu apa Bentuk bentuk perkataan yang tidak baik? Diantaranya adalah " BERDUSTA, GOSSIP, MENGADU DOMBA, MEMFITNAH, TAJASUS( MENCARI CARI KESALAHAN ORANG LAIN), MENGHINA dan MENCELA termasuk perkataan yang tidak baik.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya (hadits no. 6474) dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ


“Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.”

Maksud dari diantara dua janggut dan kaki adalah menjaga lidah dan menjaga kemaluan. Rosulullah menjamin seseorang yang bisa menjaga mulutnya dari ucapan kotor dan perkataan tiak baik dan bisa menjaga kemaluannya, maka diberi jaminan masuk surga.

Seorang ulama mengatakan "Manusia diberi Allah dua telinga dan satu mulut, sudah sepantasnya kita lebih banyak mendengar daripada bicara."

Kajian tentang wajibnya umatnya menjaga lisan ini disampaikan oleh Ustad Yazid Jawas. Isi kajian secara rinci dan lebih jelas silahkan dengarkan atau download dibawah ini